Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Makna Taubat

Sebuah makna kata yang indah dalam Islam dituliskan, ia bermakna kepulangan, kembalinya seseorang yang dirindukan, penyesalan dan pengharapan. Kata itu adalah taubat. Taubat adalah sebuah hasil pengembaraan sia-sia yang pernah dilakukan oleh seorang manusia hingga membuat tubuhnya letih, lelah dan lemah.

Sejurus kemudian ia sadari bahwa usaha yang telah ia lalui telah menjumpai kekeliruan. Jalan yang ditelusuri berbuah ketersesatan. Karenanya, dengan segenap asa yang masih ia miliki ia bertaubat, kembali pada jalan yang diridhai. Sehingga datangnya diri berbuah harapan dan membawa senyuman. Itulah makna singkat dari taubat.

Taubat berasal dari kata dalam bahasa Arab taaba – yatuubu – taubatan yang berarti kembali. Dia memiliki kesamaan arti dengan kata lain dalam bahasa Arab, raja’a-yarji’u-raj’an atau anaaba-yanuubu-inaabatan. Kesemua kata di atas sama memiliki arti ‘kembali’. Kembali yang dimaksud di sini tiada lain adalah kembali atau datangnya lagi seorang hamba kepada Allah Swt. Taubat adalah sebuah proses kembalinya seorang hamba. Ia kembali dari perbuatan maksiat menjadi taat. Kembali dari ingkar menjadi tunduk. Kembali dari kekufuran menjadi syukur.

Dalam sebuah hadits, taubat juga berartikan penyesalan atau an nadam. Dia adalah sebuah penyesalan yang muncul dari kekeliruan yang pernah dilakukan oleh manusia. Telah ia sesali rupanya bahwa bermain api akan terbakar. Bermain pisau akan terpotong. Bermain celaka akan binasa. Semua hal negatif yang telah ia lakukan, segalanya membawa penyesalan. Sebab itu, ia pun ingin memperbaiki keadaan. Dari penyesalan menuju pengharapan. Proses ini pun dinamakan ‘taubat’.

Baginda Nabi Saw pernah ditanya suatu hal oleh Abu Bakar Ra yang menjadi sahabat karibnya. Sebagai manusia, tentu Abu Bakar Ra memiliki dosa dan kesalahan. Meskipun kita tahu, bahwa dia bukanlah manusia biasa. Dia adalah seorang sahabat Nabi Saw yang telah dijamin surga oleh Allah Swt dan Rasul-Nya.

Abu Bakar bertanya kepada Nabi Saw, “Wahai Rasul, ajarkan aku sebuah doa yang bermanfaat untukku!” Maka Nabi Saw pun membacakan doa berikut untuknya sebagai jawaban:

“Ya Allah ampunilah dosa-dosaku, ketidak-tahuanku, semua perbuatan burukku dan kesalahan lain yang lebih Engkau ketahui. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, dosa-dosa yang sengaja aku perbuat atau tidak disengaja. Engkau Yang Pertama dan Engkau Yang Terakhir, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”. HR. Bukhari & Muslim

Coba resapi makna doa tersebut di atas! Bayangkan kelembutan jiwa orang yang mengucapkannya, serta kasih sayang Allah Swt, At Tawwab, Sang Penerima taubat hamba-Nya. Nuansa pengharapan dan kebahagiaan akan tumbuh dalam lubuk hati sang hamba yang membacanya seraya bertaubat kepada Allah Swt. Dan Allah Swt pun akan menerimanya kembali dengan segala rahmat dan ampunannyal. Hingga membuat diri sang hamba menjadi putih kembali dari segala dosa. Dan ia dapat kembali seperti sediakala! Subhanallah....

Sebab Manusia Berbuat Dosa & Kesalahan

Pada hakikatnya manusia terlahir dalam kondisi fitrah (suci). Ia tidak membawa dosa keturunan, meski ia terlahir dari hubungan haram kedua orang-tua. Amat adil hikmah Allah Swt menciptakan manusia yang baru terlahir ke dunia tanpa membawa beban dosa. Sebab bukanlah bijak namanya, bila Dia Swt menghukum seorang hamba atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.

Prinsip di atas ini sungguh telah ditegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. 2:286)

Adapun manusia dapat terjerembab ke dalam perangkap dosa yang kemudian akan menyeretnya dalam siksa Tuhan adalah disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Manusia lupa kepada Allah; hal ini bahkan dapat membuat ia lupa dan hilang kontrol terhadap kemuliaan diri.

2. Al Jahl (ketidak-tahuan) terhadap perbuatan dosa; membuat manusia menganggap remeh setiap tindakan maksiat yang dilakukannya.

3. Meremehkan agama; sehingga membuat orientasi hidup manusia menjadi bias dan melupakannya untuk senantiasa berada pada jalan hidup yang benar.

4. Pengaruh lingkungan yang buruk; akan menyeret manusia yang tidak memiliki pedoman dan prinsip hidup yang kuat.

5. Tidak sayang pada diri sendiri; sehingga dapat menjerumuskannya pada kehancuran. Ingkar kepada agama; membuat orientasi hidup manusia menjadi bias dan tersesat. Sesungguhnya agamalah yang dapat menuntun hidup manusia ke jalan yang benar.

6. Mengikuti jejak setan; sehingga ia tersesat dan jauh dari jalan Allah Swt.

7. Cinta dunia; membawa manusia buta akan kebenaran.

Ketujuh hal ini dapat membuat manusia terjerembab dalam kubangan dosa dan kemaksiatan. Semakin ia mendekat kepadanya, maka akan semakin dalam ia masuk dalam jurang kenistaan. Sebaliknya, bila ia semakin menjauh maka kemenangan dan kebahagiaan akan ia rasakan.

Allah amat Senang Menerima Hamba yang Bertaubat

Apa perasaan yang Anda alami bila Anda kehilangan sesuatu yang amat berharga kemudian menemukannya kembali? Tentunya teramat senang perasaan Anda! Begitupun apa yang dirasakan oleh Allah Azza wa Jalla.

Dia Swt akan merasa senang, bila Dia Swt pernah kehilangan seorang hamba yang pernah Dia ciptakan, kemudian sang hamba itu datang kembali dengan berpasrah diri. Hal ini dituturkan dalam sebuah hadits Rasulullah Saw berikut:

“Demi Allah, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya dari pada seseorang di antara kamu yang menemukan kembali miliknya yang hilang di tengah padang. Barangsiapa mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Barangsiapa mendekatiku sehasta, maka aku mendekatinya selangkah. Barangsiapa mendekati-Ku dengan berjalan maka Aku mendekatinya dengan berlari.” HR. Muslim

Allah Swt bergembira saat menerima kedatangan hamba-Nya untuk bertaubat. Apakah Anda tidak berkeinginan untuk membuat Tuhan Yang telah Menciptakan diri Anda menjadi gembira? Sungguh taubat membuat Allah Swt senang, bahkan melebihi kesenangan orang yang menemukan barang berharga miliknya yang telah hilang.

Hadits ini dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ada seorang pria yang sedang melakukan safar (perjalanan) dengan mengendarai seekor unta. Pada unta tersebut, ia taruh segala perbekalan yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan.

Pada sebuah telaga air, ia tambatkan untanya kemudian ia pun turun minum. Tak disadari, unta yang membawa segala perbekalan rupanya tidak terikat dengan baik. Sementara ia keasyikan turun minum, unta pun pergi meninggalkan tuannya.

Kelimpungan, itulah yang dirasakan pemilik unta. Ia berusaha mencari kesana-kemari, namun unta miliknya tak dijumpai lagi. Hingga badan letih kehausan, maka ia pun memutuskan kembali lagi ke telaga. Keletihan membawanya terlelap. Sebelum tidur, ia pun sempat berucap dalam hati, “Ya Allah, aku pasrah bila harus mati di tempat ini!” Ia ucapkan kalimat itu, karena asa yang telah pupus untuk dapat hidup kembali.

Tak lama berselang, ia mengendus bahwa ada suara yang begitu ia kenal. Ia pun terjaga dari tidur. Subhanallah, ia dapati rupanya unta yang ia cari telah kembali datang lagi. Alangkah girang hatinya, dan ucapan latah pun terlontar dari mulutnya, “Ya Allah sungguh Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu!” Ia ucapkan kalimat itu tanpa ia sadari, padahal yang sebenarnya ia maksudkan adalah sebaliknya.

Usai menceritakan kisah memukau ini, Rasulullah Saw menegaskan sekali lagi:

“Demi Allah, Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya dari pada seseorang di antara kamu yang menemukan kembali miliknya yang hilang di tengah padang.”

Mungkin Anda gembira membaca kisah ini. Namun bila Anda ingin berbagi kegembiraan dengan Allah Swt, Sang Maha Pencipta, maka datanglah kepada-Nya dengan taubat yang sesungguhnya. Dengannya, Anda dapat membuat gembira Sang Maha Pencipta!

Aku Malu, Ya Allah!

Saudaraku..., mungkin kenistaan diri membuat kita malu untuk datang kepada Allah Swt. Usah kau malu! Sedangkan malu terhadap Allah Azza wa Jalla itu pun adalah hal yang amat berharga bagimu.

Seperti gelar haji yang membuat penyandangnya selalu menjaga perilaku karena malu, maka taubat yang pernah kau jalankan pun akan membawamu merasa malu. Sehingga rasa malu selalu menjadi tameng dirimu untuk tidak lagi mengerjakan perbuatan maksiat.

Dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhari, Rasulullah Saw mengisahkan bahwa dulu pernah ada ada seorang ayah yang dikarunia Allah Swt harta yang banyak. Saat ajal menjelang, ia kumpulkan semua anaknya dan ia berwasiat kepada mereka. Ia katakan, “Menurut kalian, Ayah yang bagaimana aku ini?” Anak-anaknya menjawab bahwa dia adalah ayah yang baik. Terenyuh mendengarnya, ia pun menyadari bahwa dirinya tidak pernah melakukan kebaikan sedikitpun.

Lalu ia berpesan bila ia telah mati nanti agar jasadnya dibakar, dan debunya ditebarkan pada hari dimana angin bertiup kencang. Ia bersikap demikian karena ia malu bila bertemu dengan Allah Swt, sementara dirinya nista, penuh dengan dosa!

Lalu anak-anaknya menjalankan wasiat itu dengan baik. Saat debu sang ayah mereka tebarkan pada angin yang bertiup kencang, maka Allah Swt menghimpun kembali serpihan dari debu yang betebaran. Serta-merta Allah Swt berfirman dan kembalilah jasad utuh seperti semula.

Kini sang hamba berdiri menggigil ketakutan. Dalam kepanikan yang dialaminya, Allah Swt bertanya kepadanya, “Mengapa kau lakukan ini semua?!”

Dihadapan keagungan Tuhan, sulit sekali lisan berucap dan bibir tergerak. Satu kalimat yang meluncur dari lisannya. “Aku takut pada-Mu, Tuhan... Aku malu pada-Mu!” Itu saja yang dapat ia ucapkan. Ia berdiri merinding, menggigil dan terdiam ketakutan.

Demi melihat hal itu, Allah Swt pun memasukkan sang hamba ke dalam rahmat-Nya. Subhanallah! Rasa malu atas dosa membuat Allah Swt memberi ampunan!

Ketahuilah saudaraku..., dosa dan kesalahan membuat diri kita menjadi malu. Saat mendefinisikan dosa, Rasulullah Saw mengatakan bahwa ia adalah sesuatu yang membuat jiwamu gelisah, dan kau merasa malu bila ada orang yang melihatnya! Demikianlah dosa. Dosa membuat manusia merasa malu. Karenanya, tinggalkanlah!

Diriwayatkan dari Said bin Jubair dari Ibnu Umar sebagai hadits marfu’, “Allah mendatangi orang mukmin pada hari kiamat, Dia mendekatinya hingga membuat orang itu tertutup dari pandangan semua makhluk-Nya. Lalu Allah berkata kepadanya, “Bacalah!” Allah kemudian memberitahukan dosa-dosa orang itu, lalu berkata lagi, “Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu?” Orang itu menjawab, “Ya.” Kemudian ia melihat kanan kirinya, Allah berkata lagi, “Tidak perlu cemas hamba-Ku, kamu berada dalam hijab-Ku hingga tidak ada seorangpun dapat melihat-Mu. Tidak ada seorangpun di antara Aku dan engkau pada hari ini yang dapat mengintip dosa-dosamu selain Aku.

Aku memberimu ampun atas dosa-dosa itu cukup dengan satu hal dari semua yang telah kau lakukan untuk-Ku. Orang itu berkata, “Apa itu Tuhanku?” Allah menjawab, “Engkau tidak pernah mengharap ampunan selain daripada Aku.” (Lih. Jami’ Al Ulum wal Hikam, hal. 393)

Taubat dengan Beristighfar

Ada beragam rupa cara manusia untuk bertaubat kepada Allah Swt. Cara terampuh dalam bertaubat adalah berharap ampunan-Nya. Atau lebih dikenal dengan ‘istighfar’.

Berikut ini saya sampaikan hadits-hadits seputar keunggulan istighfar :

Pertama,

“Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman, ‘Wahai Manusia, sesungguhnya jika engkau berdo’a dan bermohon kepada-Ku maka aku ampuni semua kesalahan yang ada padamu dan Aku tidak menghiraukannya. Wahai manusia, jika dosa-dosamu itu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, maka Aku ampuni dosa-dosamu, dan Aku tidak peduli (betapun banyaknya dosamu). Wahai manusia, jika engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan suatu apapun, maka niscaya Aku akan membawa ampunan sepenuh bumi pula untukmu.” HR. Bukhari & Muslim

Kedua,

“Barangsiapa yang memohon ampunan bagi kaum muslimin dan muslimat, maka ia akan mendapat satu kebaikan dari setiap mu’min dan mu’minah.” HR. Thabrani

Ketiga,

“Barangsiapa yang selalu beristighfar maka Allah akan memberinya kelapangan dalam setiap kesempitannya, dan Allah akan membukakan jalan dari kesusahannya serta Allah akan memberinya rezeki dari yang tidak di sangka-sangka.” HR. Abu Daud & Ibnu Majah

Keempat,

“Barangsiapa sebelum tidur membaca: ‘Aku mohon ampun dari Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup, dan aku bertaubat kepada-Nya’ sebanyak tiga kali. Maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun dosanya itu sebanyak buih di lautan, walaupun sebanyak daun di pepohonanan, walaupun sebanyak pasir di padang pasir, walaupun sepanjang umur dunia.” HR. Ahmad & Tirmidzi

Kelima,

“Berbahagialah bagi orang yang mendapatkan dalam lembar catatan amalnya permohonan ampun (istighfar) yang banyak.” HR. Baihaqi & Ibnu Majah

Keenam,

“Barangsiapa ingin digembirakan oleh lembar catatan amalnya maka perbanyaklah beristighfar!”HR. Baihaqi

Ketujuh,

“Tidaklah seorang muslim berbuat dosa kecuali malaikat berhenti tiga jam menunggu. Apabila ia mohon ampunan dari dosanya maka malaikat tidak akan mencatatnya, dan Allah tidak akan menyiksanya pada hari kiamat.” HR. Hakim

Kedelapan,

“Apabila engkau tersakiti oleh dosamu maka beristighfarlah kepada Allah dan bertaubatlah kepadanya, karena taubat dari dosa adalah dengan menyesali dan mohon ampunan.” Hadits Muttafaq Alaihi.

Saya berharap semoga semua dalil yang dipaparkan di atas dapat membuat kita semua tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt, dan semakin giat untuk memohon ampunan-Nya. Ahmad Yasin Ibrahim

Adab dan syarat-syarat Ijabahnya Doa (bagian 5, terakhir)

Kedelapan belas: Mendoakan orang lain

Di antara adab-adab berdoa yang juga sangat penting adalah mendoakan
saudara-saudaranya muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat. Adab
ini termasuk adab yang terpenting, karena hal ini mencerminkan rasa
cinta sesama kaum mukminin, dan dapat menghilangkan kebencian dan
perselisihan di antara mereka. Selain itu hal ini menjadi salah satu
bagian dari tangga rahmat Allah swt, salah satu penyebab yang paling
kuat diijabahnya suatu doa, akibat dari pahala dan karunia yang
melimpah bagi orang yang berdoa dan yang didoakan.

Rasulullah saw bersabda:
“Jika kamu berdoa, maka doakan juga orang lain, karena hal itu menjadi
sebab diijabahnya doa.” (Al-Kafi, 2: 354, hadis ke 1)


Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jika seseorang membaca doa ini:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَجَمِيْعِ
اْلاَمْوَاتِ
Ya Allah, ampuni semua kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan
muslimat, yang hidup dan yang mati, Allah akan menghapuskan dosa-
dosanya yang lalu dan yang akan datang, karena doa dari setiap
manusia.” (Biharul Anwar 93: 391, hadis ke 24)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) juga berkata:
“Doa seseorang untuk saudaranya yang tidak hadir dapat mengalirkan
rizki dan menolakkan sesuatu yang tidak diinginkan.” (Amali Ash-
Shaduq: 369, hadis ke 1)

Kesembilan belas: Merendahkan diri dan mengangkat tangan
Tentang merendakan diri dan khusuk Allah swt berfirman:

“Berzikirlah kepada Tuhanmu dengan kerendahan diri dan rasa
takut.” (Al-A`raf/7: 205.

“Sesungguhnya Kami telah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka
tidak tunduk kepada Tuhannya, dan tidak juga berdoa dengan mengangkat
dan merendahkan diri.” (Al-Mukminun/23: 76).

Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Abu Ja’far (sa) tentang
firman Allah swt:“Maka mereka tidak tunduk kepada Tuhannya, dan tidak
juga berdoa dengan mengangkat tangan dan merendahkan diri.” (Al-
Mukminun/7: 23). Beliau menjawab:

“Istikânah adalah khudhuk (patuh), sedangkan tadharru` adalah
mengangkat tangan dan merendahkan diri.” (Al-Kafi 2: 348, hadis ke 2)

Imam Husein (sa) berkata:
“Rasulullah saw mengangkat tangannya ketika memohon dan berdoa seperti
orang miskin yang meminta makanan.” (Biharul Anwar 93: 339, hadis ke
9)

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw mengangkat tangan
dan merendahkan diri dalam berdoa sehingga hampir-hampir jatuh
selendangnya. (Biharul Anwar 93: 339, hadis ke 10)

Mengangkat tangan dan merendahkan diri adalah salah satu bagian dari
sebab-sebab terkabulnya doa. Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah malu kepada hamba-Nya yang mengangkat kedua
tangannya, kemudian mengembalikan kedua tangannya dengan sia-
sia.” (Biharul Anwar 93: 389, hadis ke 11)

Mengangkat kedua tangan mencerminkan kerendahan hati dan sikap butuh
kepada Allah swt.

Abu Qurrah pernah bertanya kepada Imam Ali Ar-Ridha (sa): Mengapa
ketika berdoa Anda mengangkat tangan ke langit? Beliau menjawab:
"Sesungguhnya Allah menjadikan makhluk-Nya sebagai hamba dalam
berbagai ibadah, dan menjadikan makhluk-Nya sebagai hamba ketika
berdoa dan bermohon, merendahkan diri dengan membuka dan mengangkat
tangannya sebagai tanda kerendahan hati, kehambaan dan kehinaan di
hadapan-Nya." (Al-Ihtijaj: 407)

Kedua tangan memiliki beberapa fungsi dan peranan dalam berdoa,
tergantung pada kondisi orang yang berdoa. Fungsi-fungsi itu untuk
menunjukkan: raghbah (harapan), rahbah (rasa takut), tadharru`
(kerendahan diri), tabattul (perasaan terputus dari segala sebab hanya
kepada Allah, dan Ibtihal (menyampaikan permohonan).

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Raghbah (harapan) adalah membuka kedua tanganmu dan menampakkan
telapak tanganmu. Rahbah (rasa takut): membuka kedua tanganmu dan
membalik telapak tanganmu. Tadharru`: menggerakkan jari telunjuk
kananmu ke kanan dan ke kiri. Tabattul: mengerakkan jari telunjuk kiri
dan mengangkatnya ke langit secara perlahan-lahan dan mengembalikan ke
posisi semula. Ibtihal: membuka kedua tanganmu dan kedua lenganmu ke
langit; dan Ibtihal dilakukan ketika kamu melihat sebab-sebab
terjadinya tangisan.” (Al-Kafi 2: 348, hadis ke 4)

Makruh hukumnya memandang ke langit. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa)
mengatakan bahwa ayahnya (sa) berkata: Pada suatu ketika Rasulullah
saw lewat di dekat orang yang memandang ke langit ketika berdoa, lalu
beliau bersabda kepadanya:
“Tundukkan pandanganmu, karena kamu tidak akan melihat-Nya.” (Biharul
Anwar 93: 307, hadis ke 4)

Kedua puluh: Melembutkan suara dalam berdoa
Disunnahkan tidak mengeraskan suara dalam berdoa, agar terhindar dari
riya’ yang merusak nilai amal seperti debu yang dihempas angin. Allah
swt berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang
lembut.” (Al-A’raf/7: 55).

Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:
“Doa seorang hamba dengan suara yang lembut, bandingannya satu doa
berbanding tujuh doa dengan suara yang keras.”

Dalam riwayat yang lain dikatakan:
“Doa yang disembunyikan lebih utama di sisi Allah dari tujuh puluh
doa yang ditampakkan.” (Al-Kafi 2: 345-346, hadis ke 1)

Kedua puluh satu: Tidak tergesa-gesa dalam berdoa
Di antara adab-adab berdoa adalah tidak tergesa-gesa dalam berdoa,
tetapi hendaknya berdoa secara perlahan-lahan. Karena tergesa-gesa
dalam berdoa mengganggu kehadiran hati dan kekhusukan dalam menghadap
Allah swt. Hal ini menjadi tanda kerendahan hati dan kelembutan hati,
sebagaimana tergesa-gesa dapat menyebabkan kekacauan dalam berdoa dan
melupakan bagian-bagian tertentu di dalam doa.

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): “Pada suatu ketika ada seseorang memasuki
masjid lalu ia shalat dua rakaat, kemudian ia bermohon kepada Allah
azza wa jalla, lalu Rasulullah saw bersabda: “Ini hamba tergesa-gesa
dalam menghadap Tuhannya.” Kemudian datanglah orang yang lain, lalu ia
melakukan shalat dua rakaat, kemudian memuji Allah azza wa jalla dan
membaca shalawat, lalu Rasulullah saw bersabda: “Bermohonlah kamu,
niscaya kamu akan diberi.” (Al-Kafi 2: 352, hadis ke 6)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Sesungguhnya seorang hamba jika ia tergesa-gesa lalu menyampaikan
hajatnya, Allah azza wa jalla berfirman: ‘Tidakkah ia tahu bahwa Aku
adalah Allah yang memperkenankan hajat-hajatnya’.” (Al-Kafi 2: 344,
hadis ke 2)

Beliau juga berkata:
“Sesungguhnya seorang hamba jika ia berdoa, Allah senantiasa
memperkenankan hajatnya selama ia tidak tergesa-gesa.” (Al-Kafi 2:
344, hadis ke 1)


Kedua puluh dua: Tidak putus asa
Orang yang berdoa tidak boleh putus asa dari rahmat Allah, juga tidak
boleh berharap agar ijabah doanya ditunda kemudian meninggalkan doa.
Karena hal ini adalah bagian dari penyakit yang menghalangi pengaruh
doa. Tidak ubahnya seperti petani yang menanam bibit tanaman kemudian
merawat dan memeliharanya, kemudian karena pertumbuhan dan panen
tanamannya terlambat, ia meninggalkan dan menyia-nyiakannya.

Diriwayat oleh Abu Bashir bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Orang yang beriman ia selalu berada dalam kebaikan dan rahmat dari
Allah azza wa jalla selama ia tidak mengharap agar ijabah doanya
dipercepat lalu putus asa dan meninggalkan doa.” Kemudian aku bertanya
kepada beliau: Apa yang dimaksud dengan yasta`jil? Beliau menjawab:
(Yasta’jil adalah)“Kamu berdoa pada waktu-waktu tertentu, sedangkan
Allah tidak memperlihatkan ijabah-Nya.” (Al-Kafi 2: 355, hadis ke 8)

Orang yang berdoa harus menyerahkan semua urusannya kepada Allah,
meyakini Tuhannya, dan ridha terhadap ketentuan-Nya. Ia harus
menjadikan tertundanya ijabah doanya sebagai kemaslahatan dan kebaikan
yang diinginkan dan dicintai oleh Allah swt; dan harus selalu berdoa
dan membuka tangan harapannya dalam berdoa karena dalam hal itu
terdapat pembalasan yang agung dan pahala yang melimpah.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah berwasiat kepada puteranya Al-
Hasan (sa):
“Janganlah kamu putus asa karena tertundanya ijabah-Nya, karena
pemberian itu sesuai dengan kadar niatnya. Mungkin ditundanya ijabah
bagimu agar menjadi pahala yang paling besar bagi pemohon, pemberian
yang paling melimpah bagi pengharap. Mungkin juga kamu memohon sesuatu
lalu kamu tidak diberi dan kamu diberi yang lebih baik darinya cepat
atau lambat, atau disingkirkan darimu karena itu lebih baik bagimu.
Milik Tuhan semua persoalan, mungkin apa yang kamu harapkan itu dapat
merusak agamamu jika diberikan kepadamu.” (Nahjul Balaghah, kitab 31)

Kedua puluh tiga: Terus-menerus berdoa
Orang yang berdoa harus tekun dan terus-menerus dalam berdoa dan
memohon, baik diijabah atau tidak. Meninggalkan doa yang pernah
diijabah termasuk sikap keras hati yang dicela oleh Allah swt:
“Jika manusia itu ditimpa bahaya ia memohon pertolongan kepada
Tuhannya dengan kembali kepada-Nya, tetapi jika Tuhannya memberikan
nikmat-Nya kepadanya ia lupa akan bahaya yang pernah ia berdoa kepada-
Nya sebelumnya.” (Az-Zumar/39: 8).

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) pernah menasehati seseorang:
“Janganlah kamu termasuk orang …jika ditimpa bala’ ia berdoa dengan
kesengsaraannya, dan jika memperoleh kebahagiaan ia berpaling dengan
kesombongannya.” (Nahjul Balaghah- Al-Hikmah 150)

Jika ijabah doanya masih ditunda ia harus selalu berdoa dan bermohon.
Karena doa memiliki keutamaan sebagai inti ibadah; sebagai senjata
orang yang beriman untuk menghadapi keburukan setan, cinta dunia dan
kejahatan hawa nafsu. Dan mungkin juga ditundanya ijabah itu menjadi
kemaslahatan yang tidak diketahui kecuali oleh Yang Maha Mengetahui
segala rahasia dan yang tersembunyi. Sehingga, ditundanya ijabah itu
menjadi kebaikan bagi seorang hamba, atau menjadi penolak bala’ yang
segera datang yang kadarnya tidak diketahui. Semoga ditundanya ijabah
itu menjadi suatu karunia yang agung dan kedudukan yang istimewa di
sisi Allah swt, yaitu Allah swt senang mendengar rintihan suaranya
dalam berdoa, karena itu hendaknya ia tidak meninggalkan apa yang
dicintai oleh Allah swt.

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Sesungguhnya seorang mukmin yang memohon hajatnya kepada Allah azza
wa jalla, kemudian ditunda kesegeraan ijabah-Nya karena Dia mencintai
suaranya dan senang mendengar rintihannya.” (Al-Kafi 2: 354, hadis ke
1)

Orang yang berdoa harus selalu berdoa dalam segala keadaan. Karena
yang demikian itu akan memperoleh rahmat, maghfirah dan ijabah doanya.

Rasulullah saw bersabda:
“Allah menyayangi seorang hamba yang memohon hajatnya kepada Allah
azza wa jalla, lalu ia terus-menerus dalam berdoa, baik diijabah atau
belum diijabah.” (Al-Kafi 2: 345, hadis ke 6)

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Demi Allah, tidak ada seorang mukmin yang terus-menerus memohon
hajatnya kepada Allah azza wa jalla kecuali Dia
memperkenankannya.” (Al-Kafi 2: 345, hadis ke 3)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Sesungguhnya Allah azza wa jalla tidak menyukai manusia yang terus-
menerus minta kepada yang lain, Dia menyukai hal itu pada diri-Nya,
sesungguhnya Allah azza wa jalla senang dimintai dan diharapkan apa
yang ada di sisi-Nya.” (Al-Kafi 2: 345, hadis ke 4)

Kedua puluh empat: Berdoa sebelum kejadian
Di antara adab-adab berdoa adalah, seorang hamba harus berdoa dalam
keadaan suka dan duka. Karena hal ini termasuk kepercayaan kepada
Allah, kebergantungan hanya kepada-Nya, harapan akan karunia-Nya untuk
menolak bala’, dan ijabahnya doa ketika duka dan menderita.

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Barangsiapa yang ingin diijabah doanya ketika duka, maka hendaknya ia
memperbanyak doa ketika suka.” (Al-Kafi 2: 343, hadis ke 4)


Di antara doa Imam Ali Zainal Abidin (sa):
“Jangan jadikan aku orang yang sombong karena kebahagiaan dan
menggerutu karena bala’, lalu tidak berdoa kepada-Mu kecuali ketika
tertimpa goncangan, dan tidak mengingat-Mu kecuali ketika terjadi
bahaya, kemudian ia merendahkan dirinya, dan mengangkat tangannya
untuk bermohon kepada-Mu.” (Biharul Anwar 94: 130)

Kedua puluh lima: Memakai cincin aqiq atau firus
Dalam berdoa disunnahkan memakai cincin aqiq atau firus.
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Tidaklah diangkat tangan kepada Allah azza wa jalla kecuali Allah
mencintai tangan yang padanya ada cincin aqiq.” (Iddatud da`i: 129)

Rasulullah saw bersabda bahwa Allah azza wa jalla berfirman:
“Sungguh Aku malu pada hamba yang mengangkat tangannya yang padanya
ada cincin firus, lalu mengembalikan tangannya dengan sia-
sia.” (Biharul Anwar 93: 321)

Kedua puluh enam: Adab sesudah berdoa
Secara detail Anda dapat membacanya di artikel yang berjudul “Adab
sesudah berdoa”.

Yang berminat tek arab hadis-hadis tersebut bisa mengkopi dari milis
“Keluarga bahagia” atau milis Shalat-doa”, linknya berikut ini.

Wassalam
Syamsuri Rifai

Satu Jasad dan Satu Bangunan

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِيْ تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih, sayang dan kecenderungan jiwa (simpati) seperti perumpamaan jasad/tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya, yaitu tidak bisa tidur dan (sakit) demam. (HR Ahmad, Baihaqi, Muslim, Thabrani dan Qudha‘i. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Muslim)

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Orang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. (HR Abu Ya‘la, Ahmad, Bukhari, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, Muslim, Nasa’i, Thabrani, Tirmidzi dan Qudha‘i )

Di Shahih Bukhari dan Musnad Syihab al-Qudha‘i, untuk hadits terakhir terdapat tambahan:
وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.

Kemudian beliau menggabungkan jari-jari tangan beliau.

Mari kita perhatikan peristiwa sehari-hari. Ketika kaki tersandung batu, seluruh bagian tubuh bersimpati dan empati. Otak memerintahkan kaki 'tuk berhenti berjalan, mata berkaca-kaca, lisan membaca istirjâ‘ (innâ lillâhi...), bibir melengkung ke bawah bak busur panah :(, tangan pun turut serta memegang dan memijit dengan penuh telaten. Hebatnya, semua itu terjadi secara otomatis. Begitulah sunnatullah berjalan. Subhânallâh.

Sebuah gedung, betapa pun serasi warna cat yang digunakan serta kokoh pondasi dan tiang pancangnya, namun bila kondisi pintu dan jendela yang ada sangat parah, maka bangunan tersebut tidak mengagumkan. Keadaan seperti ini sangat rapuh terhadap pencurian, juga tidak indah.

Itulah perumpamaan umat Islam, laksana satu jasad atau satu bangunan. Hanya saja, pemahaman ini sangat kita mengerti saat berada di majelis ta'lim, pengajian, pesantren atau masjid. Bagaimana kondisi kita selain di area itu?

Coba kita ingat lagi tingkah laku kita di luar tempat-tempat sakral tersebut. Di jalan raya, apakah kita masih memandang dan memerlakukan pengguna jalan lain sebagai saudara kita? Ketika naik sarana transportasi umum—angkutan kota (angkot/lyn), bus, kereta api atau lainnya—adakah perilaku kita senantiasa santun, ramah dan indah kepada sesama penumpang (saudara kita)?

Di blog, forum atau jejaring sosial, adakah tulisan kita selalu dihiasi kata-kata sarat makna, enak dibaca dan terasa “merdu” di telinga? Ataukah justru menjewer bahkan memerahkan telinga sang lawan diskusi? Penulis pernah juga menerima pertanyaan sekaligus pernyataan seorang teman diskusi yang menurut konvensi umum kurang elok didengar.

Hidup ini antara kita dan Allah. Pertemuan dan perjumpaan dengan orang lain hanyalah sementara. Semua itu rangkaian peristiwa dalam perjalanan menuju Al-Haqq. Oleh karena itu, bagi penulis, apa pun ungkapan yang ditujukan kepada penulis, tak jadi masalah. Apakah kasar, tidak sopan, tanpa tata krama/etika atau apa pun tak jadi soal. Bagi penulis, semua kritik adalah sarana untuk memperbaiki diri.

Namun demikian, jika akan mengajukan pertanyaan/komentar kepada orang lain, hendaknya kita memilih dan memilah kata. Dikuatirkan akan menyinggung lawan bicara. Bukankah sudah tertera di sebuah petuah bijak, “Jikalau pedang lukai tubuh, masihlah ada harapan sembuh. Tapi jika lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari?” Bukankah sesama muslim bersaudara? Bukankah kita ibarat satu jasad dan satu bangunan?

Membaca Doa Tapi Tidak Berdoa (1 of 12)

“Saat ini kita sering membaca doa, tapi sebenarnya kita tidak berdoa. Oleh karena itu, terkabulnya doa kita juga susah, karena memang kita tidak pernah berdoa.” Itulah pesan seorang Ibu Nyai dari Gresik dalam salah satu mau‘izhah (ceramah)-nya.


Ya, memang itulah kenyataan yang terjadi. Jika doa yang akan kita panjatkan berbahasa Arab, maka kita hanya terpaku pada bagaimana membacanya dengan baik dan benar sesuai tajwid, serta lagu yang indah. Sedangkan hati kita amat jauh dari syarat seorang hamba berdoa kepada Tuhannya. Begitu pun jika kita berdoa dalam bahasa Indonesia. Seharusnya kita bisa lebih menghayatinya, namun kita sering tergesa-gesa untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, doa hanyalah sebagai syarat saja, dan hakikatnya memang kita tidak berdoa, tapi membaca doa.


Kita juga sering memandang doa dengan kurang tepat. Kita menganalogikan doa seorang hamba kepada Allah seperti permintaan seorang anak kepada orang tuanya. Apakah berbeda? Ya. Sebelum kita bahas lebih detail tentang hakikat doa, marilah kita perhatikan bagaimana seorang anak meminta sesuatu kepada orang tuanya.


Seorang anak akan malu kalau sering meminta kepada orang tuanya. Ada pula yang merasa diri sudah mandiri, karena itu merasa tidak perlu bahkan tidak pantas kalau masih meminta. Jika ada anak meminta pada orang tua, setelah berkali-kali meminta namun tidak diberi, maka biasanya ada tiga kemungkinan sikap yang akan diambil sang anak.


Sikap pertama, dia jadi tidak bersemangat lagi meminta karena dianggap tidak ada gunanya. Bisa jadi akhirnya dia tidak pernah lagi meminta karena trauma dengan kondisi sebelumnya. Sikap kedua, dia marah pada orang tuanya karena sudah berulang kali meminta namun tidak dikasih juga. Karena marahnya, dia bisa melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh orang tuanya. Sikap terakhir yaitu masa bodoh. Dia kadang meminta, kadang juga tidak. Kalau meminta, dia juga tidak terlalu berharap akan dikabulkan karena dia tahu bahwa orang tuanya tidak mempunyai sikap yang jelas.


Kedudukan doa tidak bisa disamakan dengan permintaan seorang anak kepada orang tuanya. Oleh karena itu, marilah kita pelajari bersama-sama kedudukan dan hakikat doa. Dengannya, semoga kita menjadi hamba yang ridha dan diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, amin.



a. Doa adalah ibadah


Doa dalam Islam termasuk ibadah. Bacaan-bacaan shalat mengandung banyak sekali doa. Doa juga dibaca saat akan makan dan sesudahnya, sebelum tidur dan setelah bangun, ketika mau masuk kamar kecil dan tatkala keluar darinya, serta masih banyak lagi.


Di kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” terdapat hadits ke-1576 yang menerangkan tentang doa. Dari Nu‘man bin Basyir, Nabi Muhammad saw. bersabda,


إِنَّ الدُّعَـاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Sesungguhnya doa adalah ibadah.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

Bahkan, doa adalah saripati ibadah (mukh al-‘ibâdah), sebagaimana sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:


الدُّعَـاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Doa adalah intisari/saripati/otak ibadah. (HR Tirmidzi)

Dengan demikian, doa bukan hanya permintaan kita kepada Allah, namun perintah kepada umat Islam. Dengannya, kita memenuhi perintah Allah dan rasul-Nya, dan yang pasti berpahala jika mengerjakannya.


Katakanlah! Tuhanku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada doamu. (QS al-Furqân [25]: 77)


Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS al-Mu’min [40]: 60)


Karena doa adalah ibadah, bahkan intisarinya, maka memperbanyak doa berarti memperbanyak ibadah. Semakin banyak berdoa bukanlah berarti kita tidak mandiri, justru Allah akan senang sekali jika kita banyak memohon. Itu menunjukkan kehambaan kita kepada Allah. Jika memang berdoa layaknya permintaan seseorang kepada seseorang yang lain, mengapakah Rasulullah mengajarkan doa untuk setiap hal atau kegiatan? Kenapa di dalam shalat terdapat begitu banyak doa? Bukankah seseorang akan jengah jika terus-menerus dimintai bantuan? Hal ini tidaklah sama dengan Allah Yang Maha Kaya (Al-Ghaniyy).


Memang, kaum sufi rata-rata malu berdoa. Namun, itu hanya doa-doa yang berhubungan dengan hajat keduniaan. Mereka merasa sudah cukup, bersyukur, ridha terhadap apa pun pemberian Allah Yang Maha Pemberi Rejeki (Ar-Razzâq) kepada mereka. Sedangkan doa-doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. tetaplah mereka lakukan. Sebagian di antara mereka tetap berdoa, apa pun isi doanya, karena mereka mengetahui bahwa itu diperintahkan—dan itu berarti mereka melakukan ibadah, untuk menjalankan ajaran Rasulullah dan mengabdi kepada Allah Yang Maha Pencipta (Al-Khâliq).


Di antara rasa malu karena takut dianggap tidak bersyukur serta tidak ridha atas karunia yang diterima dan kewajiban berdoa karena diperintahkan, akhirnya diambil jalan tengah oleh para sufi. Jika dalam suatu kondisi, dengan berdoa dirasa lebih utama, maka mereka berdoa. Hal ini tidak menggugurkan maqam ridha. Namun, apabila berada di situasi yang dianggap diam lebih baik, maka mereka berdiam diri, bersyukur dan ridha atas apa pun yang dianugerahkan oleh Allah. Ini berarti, mereka tetaplah berdoa kepada Allah, karena doa adalah ibadah.


Doa adalah cara seorang hamba melahirkan isi hatinya di hadapan Allah, karena si hamba memerlukan Allah dan tahu akan kekurangan serta kelemahannya. Di sini hamba menempatkan dirinya sebagai ‘âbid (penyembah) di hadapan Ma‘bûd (Yang disembah). Si hamba mengadukan persoalannya dan menuturkan ketidakmampuannya.


Ibnu Athaillah berpesan, “Jangan sampai permohonanmu kepada Allah hanya sebagai alat untuk mendapatkan pemberian-Nya, karena perbuatan seperti itu berarti engkau tidak memahami kedudukanmu terhadap-Nya. Bermohonlah dengan melahirkan dirimu sebagai hamba, karena kewajibanmu terhadap Tuhanmu.”


Abu Nasr as-Saraji menuturkan bahwa ia telah menanyakan kepada para Syaikh tentang orang berdoa dengan seluruh penyerahan diri kepada Allah. Mereka menjawab, “Berdoa kepada Allah ada dua maksud. Pertama sebagai hiasan lahiriah si hamba dengan doa yang dikehendakinya, karena doa adalah tanda khidmatnya hamba kepada Tuhannya. Sebab khidmat itu, si hamba berkehendak agar seluruh anggota lahirnya terhias. Kedua, bahwasanya doa itu adalah perintah Allah, dan si hamba menaati perintah itu.” Dalam hal ini ada seorang penyair yang mengatakan:


Jika air Nil tidak lagi mengalir,
aku tidak akan memohonnya dari uluran telapak tangan-Mu,
kalau saja Engkau tidak mengajariku berdoa

Abu Hasan menjelaskan, “Jangan sampai yang menjadi tujuan doamu itu hanya tercapainya permintaan dan hajatmu. Sebab, apabila cara itu yang engkau lakukan, maka terhijablah (terpisah oleh ”tirai” penutup) engkau dengan Allah. Yang benar, jadikanlah doa-doamu itu munajat (bisikan jiwa) antara engkau dengan Tuhanmu.”


Ibnul Qayyim menerangkan:


إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ ذِكْرٌ لِلْمَدْعُوْ سُبْحَانَهُ

Sesungguhnya doa adalah dzikir kepada Yang dimohon, yaitu Allah Subhânahû wa Ta‘âlâ.

Oleh karena doa adalah ibadah dan doa juga bisa dikategorikan sebagai dzikir untuk mengingat Allah, maka tidak ada alasan untuk malas berdoa, marah karena doa belum dikabulkan, acuh tak acuh terhadap doa dan hal-hal lain yang membuat kita enggan berdoa. Apa pun yang terjadi, doa harus tetap dipanjatkan dengan penuh keyakinan pada Allah Jalla Jalâluh.


Allah senang jika engkau memohon pada-Nya
Sedangkan engkau melihat manusia marah jika ia dipinta
Jangan pernah memohon pada sesama manusia sesuatu pun kebutuhan
Tapi mohonlah pada Yang pintu-Nya tak pernah terhalang
(buah karya ‘Aidh al-Qarni)


Sebagai bukti bahwa Allah senang terhadap para hamba yang memohon kepada-Nya, di dalam Al-Qur’an, Allah memuji sebagian hamba-Nya yang berdoa.


Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu‘ kepada Kami. (QS al-Anbiyâ’ [21]: 90)


Di kitab “Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm” tercantum hadits ke-1578 yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia merafa‘kannya.


لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَـاءِ

Tidak ada satupun (amal hati) yang lebih mulia dalam pandangan Allah dibandingkan doa. (HR Ibnu Hibban dan Hakim)

Tuhan saja Pemalu

DIRIWAYATKAN oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Rasulullah pernah bersabda, sesungguhnya Allah itu pemalu dan pemurah. Bila ada seorang hamba yang mengangkat tangannya bermohon kepada-Nya dengan sungguhsungguh, Dia malu untuk menolaknya dan melihat hamba-Nya kembali dengan tangan kosong. Salah satu sifat yang dimiliki oleh semua Rasul Tuhan adalah sifat malu melakukan tindakan tercela, baik di hadapan manusia maupun Tuhan.

Jika manusia tidak lagi memiliki rasa malu, tak ubahnya dia dengan hewan.Orang yang berbudi luhur tidak saja malu melakukan perbuatan tercela, bahkan melihat orang lain berbuat asusila saja sudah malu rasanya. Contohnya sangat mudah dan sederhana. Kita semua pasti akan malu sendiri melihat orang lain berjalan telanjang di tempat keramaian. Kita malu membaca berita sekian banyak wakil rakyat korupsi. Kita malu menyaksikan sikap dan omongan politisi tidak bermutu, padahal tingkat pendidikannya tinggi dan selalu mengatasnamakan rakyat.

Rasulullah bersabda, rasa malu dan iman itu dijadikan pasangan, jika hilang salah satu,maka hilanglah yang lain.Jadi,salah satu indikator apakah seseorang atau masyarakat itu masih memelihara iman atau tidak, perhatikan saja tingkat kesetiaannya dalam menjaga kehormatan diri berupa rasa malu berbuat yang tidak baik. Salah satunya adalah korupsi, berbohong, tidak menepati janji, dan sekian banyak perbuatan tercela lainnya.

Betapa rasa malu itu sangat vital, mudah diamati pada keluarga yang terkena musibah.Misalnya saja ada seorang ayah atau kepala keluarga yangmemilikistatus sosialtinggidan terhormat, pasti anggota keluarganya akan bangga padanya.Namun, ketika yang bersangkutan tiba-tiba diberitakan media massa sebagai penjahat negara dan kemudian masuk tahanan,peristiwa itu bagaikan bencana tsunami yang menghancurkan kehormatan dan kebanggaan keluarga. Semua anggota keluarganya merasa berat menanggung malu.

Mungkin saja ada segelintir orang yang tidak lagi memiliki rasa malu,sehingga masuk kategori hewan dan telah hilang imannya. Rasulullah bersabda, ”Perbuatan keji itu kotoran,sedangkan rasa malu itu hiasan.” Ungkapan ini singkat,padat,dan memiliki kebenaran universal. Di manapun kita bepergian, entah di dalam ataupun di luar negeri, sebuah masyarakat dianggap tinggi peradabannya ketika masih memiliki rasa malu. Meski tingkat ekonomi dan teknologi sebuah negara tergolong maju, tetapi ketika tak lagi menjaga rasa malu, maka hancurlah bangsa itu.

Di antara bangsa yang masih menjaga kehormatan dirinya dengan memelihara rasa malu adalah Jepang. Seorang menteri akan rela mundur dari jabatannya, bahkan melakukan harakiri, kalau gagal melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya. Belum lama berselang bahkan mantan presiden Korea Selatan melakukan bunuh diri karena dituduh korupsi. Daripada membuat malu bangsanya dan menjadi beban pemerintah, lebih baik mengakhiri hidup dengan cara saya sendiri,katanya. Secara pribadi saya tidak setuju tindakan bunuh diri.

Tetapi yang patut direnungkan dan diteladani adalah kuatnya rasa malu ketika gagal mengemban amanat. Rasa malu ketika menyusahkan orang lain. Rasa malu ketika melakukan tindakan tercela dan merugikan masyarakat. Sifat dan sikap seperti initampaknya semakinmenipisdan hilang dari dunia politik dan birokrasi di Indonesia. Sering kali ditemukan, petugas polisi lalu lintas tidak malu menerima uang sogokan dari pengendara yang distop karena salah jalan.Petugas birokrasi yang kewajibannya melayani rakyat, tidak malu meminta uang pada tamu yang datang meminta hakhaknya untuk dilayani.

Banyak politisi tidak malu mengejar dan meminta-minta jabatan, meski dirinya tidak memiliki kompetensi. Demikianlah, setiap hari kita melihat perilaku sosial di sekeliling kita yang menunjukkan sifat malu semakin menipis di negeri yang katanya religius ini. Padahal, menurut sabda Rasul, iman dan malu itu pasangan yang tidak terpisahkan, jika hilang yang satu maka hilanglah yang lain. Ada masyarakat yang memiliki rasa malu namun tanpa iman, ada lagi yang mengaku memiliki iman tapi kehilangan rasa malu.

Jika untuk urusan dunia, mereka yang menjaga rasa malu tampak lebih baik, meski tidak beriman. Tinggal ditambahi saja iman. Sebaliknya, meski mengaku beriman, tetapi jika tidak disertai sikap malu, imannya pun tidak membuahkan akhlak mulia dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Padahal akhlak mulia atau ihsan merupakan buah yang diharapkan keluar dari iman.

Allah sendiri memiliki sifat malu.Ini suatu kabar gembira bagi mereka yang tengah dalam kesulitan agar jangan segan-segan selalu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, mengadu dan mohon pertolongan agar diringankan semua beban hidupnya. Lebih diutamakan lagi datang dan memohon pada Tuhan di tengah malam, di saat orang lain umumnya tidur lelap. Tuhan malu pada hamba-Nya yang bangun di malam hari khusus untuk beraudiensi dengan-Nya, memohon ampunan, rezeki, dan apa saja yang sangat dihajatkan.

Tuhan malu jika hamba tadi pulang dengan tangan kosong. Jangankan Tuhan Yang Maha Pemurah,kita sebagai manusia saja pasti malu dan tidak tega jika ada pengemis, teman,atau saudara yang datang dari jauh minta pertolongan. Pasti hati kita tergerak untuk membantunya. Kekuatan doa ini banyak diceritakan dan diyakini, terutama oleh para orangtua kita. Banyak keajaiban hidup dan cerita sukses yang sulit dicerna oleh nalar, namun mereka yakin sekali semua itu merupakan buah dari doa yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan.

Doa yang paling sering dipanjatkan orang tua adalah memohon pada Tuhan untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anaknya. Saya yakin, banyak cerita sukses anak muda yang sebagian besar kesuksesannya adalah berkat doa orang tuanya. Bahkan ada orang tua yang tidak saja rutin bangun salat malam, khusus berdoa untuk anak-anaknya, bahkan ada yang disertai puasa Senin-Kamis. Mereka berpandangan, ibadah itu semata untuk Tuhan. Tak ada konsep kirim pahala.

Namun mereka juga yakin, doa orang berpuasa dan bangun tengah malam akan lebih diperhatikan Tuhan, mengingat Tuhan malu dan maha pemurah, sehingga pasti akan mendengarkan dan mengabulkan doa hamba-Nya yang disampaikan dengan sungguh-sungguh. Dalam sabda yang lain Rasulullah memberitahukan, doa yang dikabulkan Tuhan adalah yang senantiasa dipanjatkan, baik waktu senang maupun waktu susah.

Artinya, seseorang itu memang sungguhsungguh mengingat Tuhan tidak saja waktu mendapat musibah, tetapi juga ketika menerima kemudahan dan kesenangan. ”Kalau engkau tidak memiliki rasa malu, berbuatlah apa saja layaknya hewan, karena yang membedakan manusia dan hewan adalah adanya rasa malu,” Rasulullah mengingatkan.
(* Komarudin Hidayat - Rektor UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta)